Surat Cinta di Bawah Langit Senja
Langit senja memancarkan warna jingga keemasan, menciptakan pemandangan yang memesona di tepi pantai. Ombak kecil menyapu pasir putih, meninggalkan jejak-jejak basah yang perlahan menghilang. Di sebuah bangku kayu yang menghadap ke laut, seorang perempuan bernama Lila duduk sendirian. Matanya menatap jauh ke horizon, seolah mencari sesuatu yang tak terlihat.
Lila memegang sebuah surat di tangannya. Surat itu sudah agak kusam, terlihat seperti telah dibaca berulang kali. Surat itu adalah surat terakhir yang diberikan oleh seseorang yang sangat berarti baginya, seseorang yang telah pergi meninggalkan dunia ini terlalu cepat.
Dia menarik napas dalam-dalam, mencoba menahan air mata yang hendak jatuh. "Kenapa kamu harus pergi, Ardi?" bisiknya pelan, suaranya hampir tak terdengar.
Tiba-tiba, langkah kaki mendekat. Lila menoleh dan melihat seorang pria berdiri di sampingnya. Pria itu mengenakan kemeja putih lengan panjang dan celana chino. Rambutnya sedikit berantakan diterpa angin pantai.
"Maaf, apakah bangku ini kosong?" tanya pria itu dengan suara lembut.
Lila mengangguk. "Iya, silakan."
Pria itu duduk di sebelah Lila. Dia memperhatikan surat yang masih dipegang Lila. "Surat cinta?" tanyanya penasaran.
Lila tersenyum kecil. "Bisa dibilang begitu. Ini surat terakhir dari seseorang yang sangat berarti bagiku."
Pria itu mengangguk, matanya penuh pengertian. "Aku mengerti. Kehilangan seseorang yang kita cintai memang berat."
Lila menatap pria itu. "Kamu juga pernah kehilangan seseorang?"
Pria itu menghela napas. "Iya. Namanya Sari. Dia adalah sahabatku sejak kecil. Tapi dia meninggal karena sakit dua tahun yang lalu."
Lila merasa ada kedekatan di antara mereka. "Aku juga kehilangan seseorang yang sangat berarti. Namanya Ardi. Dia adalah sahabat sekaligus cinta pertamaku."
Mereka berdua duduk dalam keheningan sejenak, menikmati keheningan yang terasa nyaman. Angin pantai berhembus pelan, membawa aroma laut yang segar.
"Namaku Rizal, by the way," kata pria itu sambil mengulurkan tangannya.
Lila tersenyum dan menjabat tangan Rizal. "Lila. Senang bertemu denganmu, Rizal."
Rizal tersenyum. "Senang bertemu denganmu juga, Lila."
Mereka mulai bercerita tentang kehidupan mereka, tentang kenangan indah yang mereka miliki bersama orang-orang yang telah pergi. Lila merasa lega bisa berbagi cerita dengan seseorang yang mengerti perasaannya.
"Ardi selalu bilang, hidup ini terlalu singkat untuk disia-siakan," kata Lila sambil menatap langit senja. "Dia ingin aku terus maju, meskipun dia tidak lagi di sampingku."
Rizal mengangguk. "Sari juga begitu. Dia selalu bilang, jangan biarkan kesedihan menghentikan langkah kita."
Lila menatap Rizal. "Kamu pikir kita bisa bahagia lagi?"
Rizal tersenyum. "Aku yakin kita bisa. Mungkin tidak sekarang, tapi suatu hari nanti."
Lila merasa ada harapan baru di hatinya. Dia melihat ke arah laut, di mana matahari mulai tenggelam. "Ardi pasti ingin aku bahagia," bisiknya.
Rizal menatap Lila. "Aku yakin Ardi dan Sari sedang melihat kita dari atas sana. Mereka pasti ingin kita melanjutkan hidup dengan penuh semangat."
Lila tersenyum. "Kamu benar. Terima kasih, Rizal."
Rizal mengangguk. "Sama-sama, Lila."
Mereka berdua duduk bersama, menikmati keindahan senja yang perlahan berubah menjadi malam. Di langit, bintang-bintang mulai bermunculan, seolah memberikan cahaya harapan bagi mereka.
"Lila, apa kamu punya rencana besok?" tanya Rizal tiba-tiba.
Lila menggeleng. "Belum. Kenapa?"
Rizal tersenyum. "Bagaimana kalau kita bertemu lagi di sini? Aku ingin mendengar lebih banyak ceritamu."
Lila merasa jantungnya berdebar. "Aku juga ingin mendengar ceritamu."
Rizal mengangguk. "Baiklah. Besok senja, di sini."
Lila tersenyum. "Sampai jumpa besok, Rizal."
Rizal berdiri dan mengulurkan tangannya. "Sampai jumpa besok, Lila."
Lila memegang tangan Rizal sejenak sebelum melepaskannya. Dia melihat Rizal pergi, meninggalkan dirinya sendirian di bangku itu. Tapi kali ini, dia tidak merasa sendirian. Dia merasa ada harapan baru yang tumbuh di hatinya.
Dia menatap surat di tangannya sekali lagi. "Ardi, aku akan mencoba untuk bahagia. Aku janji," bisiknya sebelum melipat surat itu dan menyimpannya di tasnya.
Langit senja semakin gelap, tapi di hati Lila, ada cahaya baru yang mulai bersinar. Dia tahu, ini adalah awal dari babak baru dalam hidupnya. Dan mungkin, bersama Rizal, dia bisa menemukan kebahagiaan yang selama ini dia cari.
Epilog
Beberapa bulan kemudian, Lila dan Rizal masih sering bertemu di tepi pantai itu. Mereka berdua telah menjadi teman dekat, saling mendukung dan menguatkan satu sama lain. Perlahan-lahan, mereka mulai membuka hati mereka untuk cinta baru.
Suatu senja, Rizal mengajak Lila berjalan-jalan di tepi pantai. Mereka berdua berjalan sambil menikmati keindahan alam sekitar.
"Lila, ada sesuatu yang ingin aku katakan," kata Rizal tiba-tiba.
Lila menatap Rizal. "Apa itu?"
Rizal berhenti dan menatap mata Lila. "Aku bersyukur bisa bertemu denganmu. Kamu telah membawa cahaya baru dalam hidupku."
Lila tersenyum. "Aku juga bersyukur bertemu denganmu, Rizal."
Rizal mengulurkan tangannya, memegang tangan Lila. "Aku ingin kita melanjutkan perjalanan ini bersama. Apa kamu mau?"
Lila merasa jantungnya berdebar kencang. Dia mengangguk. "Aku mau, Rizal."
Mereka berdua tersenyum, mata mereka penuh dengan harapan dan cinta. Di bawah langit senja yang indah, mereka tahu bahwa ini adalah awal dari cerita baru mereka, cerita yang penuh dengan cinta dan kebahagiaan.
Dan di tepi pantai itu, di bawah langit senja yang memesona, dua hati yang pernah terluka akhirnya menemukan kedamaian dan cinta yang mereka cari.
Post a Comment for "Surat Cinta di Bawah Langit Senja"