Aku di Antara Dua Waktu
Di sebuah kota kecil yang tenang, hiduplah seorang penulis bernama Rama. Ia dikenal sebagai seorang yang pendiam dan selalu terlihat tenggelam dalam pikirannya. Rama memiliki kebiasaan unik: setiap malam, ia akan duduk di depan meja tulisnya dan menulis surat untuk dirinya sendiri. Surat-surat itu berisi tentang harapan, mimpi, dan renungannya tentang kehidupan. Tapi ada satu hal yang tidak pernah ia ceritakan kepada siapa pun: ia merasa seperti hidup di antara dua waktu.
Suatu malam, ketika bulan purnama bersinar terang, Rama duduk di depan meja tulisnya seperti biasa. Tapi kali ini, ia merasa ada sesuatu yang berbeda. Udara terasa lebih dingin, dan ruangan itu seolah-olah dipenuhi oleh energi misterius. Saat ia mulai menulis, tiba-tiba pena itu bergerak sendiri, menuliskan kalimat yang tidak ia maksudkan.
"Aku tahu kau merasa tersesat, Rama. Tapi jangan khawatir, aku di sini untuk membantumu."
Rama terkejut. Ia menatap kertas itu dengan mata terbuka lebar. "Siapa... siapa kamu?" tanyanya pelan, meskipun tidak ada seorang pun di ruangan itu.
"Aku adalah dirimu, tapi dari waktu yang berbeda," jawab tulisan itu, seolah-olah bisa mendengar suaranya.
Rama merasa jantungnya berdebar kencang. Ia tidak tahu apakah ini mimpi atau kenyataan, tapi ia memutuskan untuk terus menulis.
"Apa maksudmu? Bagaimana mungkin kau adalah diriku?"
"Kau dan aku adalah satu, tapi kita terpisah oleh waktu. Aku adalah versi dirimu di masa depan, dan aku datang untuk membantumu menemukan jalan yang benar."
Rama terdiam sejenak, mencoba mencerna kata-kata itu. "Apa yang harus aku lakukan?"
"Tutup matamu, dan biarkan dirimu terbawa oleh waktu."
Tanpa berpikir panjang, Rama menutup matanya. Tiba-tiba, ia merasa tubuhnya terasa ringan, seolah-olah ia melayang di udara. Ketika ia membuka matanya kembali, ia berada di sebuah tempat yang asing tapi terasa familiar.
Ia berdiri di tengah kota yang ramai, tapi semuanya terlihat berbeda. Bangunan-bangunan itu lebih modern, dan orang-orang di sekitarnya mengenakan pakaian yang aneh. Rama menyadari bahwa ia berada di masa depan.
Tiba-tiba, seseorang menepuk bahunya. Ia menoleh dan melihat seorang pria yang tampak sangat mirip dengannya, tapi lebih tua.
"Selamat datang, Rama," kata pria itu dengan suara yang tenang.
"Kamu... kamu adalah diriku?" tanya Rama dengan suara gemetar.
Pria itu mengangguk. "Aku adalah dirimu di masa depan. Aku datang untuk menunjukkan padamu apa yang akan terjadi jika kau terus hidup dalam kebimbangan."
Rama mengikuti pria itu ke sebuah taman kecil di tengah kota. Di sana, mereka duduk di bangku kayu, dan pria itu mulai bercerita.
"Di masa depan, kau akan menjadi seorang penulis yang sukses, tapi kau akan merasa hampa. Kau akan menyadari bahwa selama ini, kau terlalu sibuk dengan dirimu sendiri dan melupakan orang-orang yang mencintaimu. Kau akan kehilangan mereka, satu per satu, dan kau akan menyesal."
Rasa sesak menyelimuti dada Rama. Ia tidak pernah menyangka bahwa hidupnya akan berakhir seperti itu.
"Tapi ada harapan, Rama," lanjut pria itu. "Kau masih punya waktu untuk mengubah segalanya. Kau bisa memilih untuk hidup dengan lebih berarti, untuk mencintai dan dicintai, dan untuk menemukan kebahagiaan sejati."
Rama menatap pria itu dengan mata berkaca-kaca. "Bagaimana caranya?"
"Mulailah dengan membuka hatimu. Jangan takut untuk mencintai, untuk berbagi, dan untuk hidup. Kau tidak harus melakukannya sendirian."
Tiba-tiba, Rama merasa tubuhnya terasa ringan lagi. Ketika ia membuka matanya, ia kembali berada di ruang kerjanya, di depan meja tulisnya. Surat yang tadi ia tulis masih ada di sana, tapi sekarang ada tambahan kalimat di bagian bawah.
"Jangan sia-siakan waktumu, Rama. Kau punya segalanya untuk menjadi bahagia."
Rama tersenyum pelan. Ia tahu apa yang harus dilakukannya. Ia segera mengambil jaketnya dan pergi ke rumah orang tuanya, tempat yang sudah lama tidak ia kunjungi.
Malam itu, di bawah cahaya bulan purnama, Rama menyadari bahwa hidupnya tidak harus dihabiskan dalam kesendirian. Ia masih punya waktu untuk mengubah segalanya, untuk hidup dengan lebih berarti, dan untuk menemukan kebahagiaan sejati.
Dan di antara dua waktu itu, ia menemukan dirinya yang sebenarnya.
Post a Comment for "Aku di Antara Dua Waktu"